Parlemen

Komisi X DPR RI Dukung Rencana Libur Ramadan Satu Bulan Penuh, Namun Menyuarakan Perlunya Pembahasan Matang

93
×

Komisi X DPR RI Dukung Rencana Libur Ramadan Satu Bulan Penuh, Namun Menyuarakan Perlunya Pembahasan Matang

Sebarkan artikel ini

Nusantara2.Co – Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief Muhammad Alaydrus, menyambut positif wacana libur sekolah selama sebulan penuh di bulan Ramadan.

Menurutnya, kebijakan ini sangat bermanfaat bagi siswa untuk dapat fokus beribadah dan meningkatkan spiritualitas mereka. Namun, ia mengingatkan bahwa rencana tersebut perlu pembahasan yang lebih mendalam antara Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik.

Habib Syarief menegaskan bahwa libur Ramadan dapat memberikan kesempatan bagi para siswa untuk memperdalam pengetahuan agama dan meningkatkan kualitas ibadah mereka. “Tujuan libur selama Ramadan sangat baik, karena dapat membantu siswa fokus dalam beribadah dan belajar agama. Kami mendukung rencana tersebut,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (5/1/2025).

Namun, Politisi dari Fraksi PKB ini mengingatkan bahwa meski tujuannya baik, rencana ini memerlukan perencanaan yang lebih matang. Pasalnya, Ramadan hanya tinggal dua bulan lagi dan hingga saat ini belum ada format yang jelas mengenai bagaimana kegiatan sekolah selama bulan suci itu. “Masih banyak pertanyaan yang muncul, seperti apakah semua kegiatan sekolah akan diliburkan, atau hanya pembelajaran formal yang dihentikan dan digantikan dengan pembelajaran keagamaan,” katanya.

Habib Syarief juga mencemaskan dampak dari liburan yang tidak terorganisir. “Jika anak-anak hanya beraktivitas di rumah selama Ramadan, mereka bisa cepat merasa bosan, dan orang tua akan kesulitan mengatur kebosanan mereka,” paparnya. Ia menambahkan, masalah lain yang harus dihadapi adalah kecanduan gawai di kalangan anak-anak, yang semakin meningkat.

“Gawai menjadi candu yang sulit dilepaskan dari anak-anak, sehingga Ramadan bisa dimanfaatkan untuk menjauhkan mereka dari pengaruh negatif tersebut,” tegasnya.

Untuk itu, Habib Syarief menyarankan agar Kemenag dan Kemendikdasmen segera duduk bersama untuk merumuskan format kegiatan Ramadan yang tepat. Salah satu opsi yang bisa dipertimbangkan adalah mengadakan pesantren kilat atau kegiatan keagamaan di sekolah yang bekerja sama dengan masjid setempat. “Ini harus segera dirumuskan agar sekolah dan madrasah bisa mempersiapkan kegiatan yang bermanfaat bagi siswa selama Ramadan,” pungkasnya.

Kebijakan libur Ramadan ini, jika diterapkan dengan baik, diharapkan dapat memberikan pengalaman yang berarti bagi siswa dalam meningkatkan keimanan sekaligus mengatasi tantangan masa kini seperti ketergantungan pada teknologi.(***)