Nusantara

Masjid Ramah Pemudik Disambut Antusias, Lebih dari 1,6 Juta Pemudik Singgah Selama Lebaran 2025

91
×

Masjid Ramah Pemudik Disambut Antusias, Lebih dari 1,6 Juta Pemudik Singgah Selama Lebaran 2025

Sebarkan artikel ini

Nusantara 2.Co — Program Masjid Ramah Pemudik yang digagas Menteri Agama Nasaruddin Umar sukses besar dalam memberikan kenyamanan bagi masyarakat selama musim mudik dan arus balik Lebaran 2025. Data Kementerian Agama mencatat, hingga Senin (14/4) pukul 12.30 WIB, sebanyak 1.617.641 pemudik telah memanfaatkan fasilitas di 8.710 masjid yang tersebar di seluruh Indonesia — dan angka ini diprediksi terus bertambah.

Program ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2025 tentang panduan penyelenggaraan ibadah Ramadan dan Idulfitri. Dalam surat itu, Menag mengimbau agar masjid dan musala di jalur mudik tetap buka selama 24 jam, melayani kebutuhan spiritual sekaligus menjadi tempat istirahat bagi para pemudik.

“Ini bukan sekadar angka. Ini bukti nyata bahwa masjid telah menjadi rumah bersama di tengah mobilitas besar masyarakat. Masjid Ramah Pemudik adalah simbol dari pelayanan keagamaan yang universal dan inklusif,” ujar Menag Nasaruddin Umar dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (15/4).

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menyebut bahwa tingginya angka kunjungan pemudik menjadi bukti kuat peran aktif masjid sebagai tempat singgah yang nyaman, aman, dan menenangkan. “Masjid tak lagi hanya sebagai tempat salat, tapi juga ruang istirahat, tempat berbagi makanan, bahkan pusat layanan informasi dan medis ringan,” jelasnya.

Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah dengan pemudik singgah terbanyak, yakni mencapai 321.439 orang di 1.002 masjid. Disusul Aceh (198.701), Jawa Tengah (151.599), dan DI Yogyakarta (87.654). Sementara provinsi lain seperti Kalimantan Selatan, Jawa Timur, dan Sumatera Barat juga mencatat ribuan kunjungan.

Tak kurang dari 96.904 personel dari berbagai elemen dilibatkan dalam program ini, mulai dari pengurus masjid, remaja masjid, KUA, Penyuluh Agama, hingga guru madrasah. Mereka menyediakan layanan takjil, toilet bersih, ruang salat terpisah untuk pria dan wanita, serta fasilitas informasi dan kesehatan.

Menag berharap, model pelayanan seperti ini tidak berhenti di musim Lebaran saja. “Semangat melayani ini harus menjadi budaya baru di masjid-masjid kita. Kita ingin masjid selalu terbuka, ramah, dan menjadi tempat pulang bagi siapa pun, kapan pun,” pungkasnya.

Dengan keberhasilan ini, Masjid Ramah Pemudik tak hanya jadi inovasi layanan keagamaan, tetapi juga bukti nyata bahwa kolaborasi antara negara dan umat dapat menciptakan kenyamanan bagi seluruh masyarakat.(***)