Nusantara2.Co – Suasana berbuka puasa di berbagai daerah kembali diramaikan dengan tradisi sederhana namun sarat makna: menyantap kurma sebagai pembuka.
Dari rumah tangga hingga acara buka bersama di masjid, sekolah, dan perkantoran, buah manis ini hampir selalu hadir di meja hidangan.
Tradisi berbuka dengan kurma merujuk pada sunnah Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan umatnya untuk mengawali berbuka dengan kurma sebelum menyantap makanan utama. Selain bernilai ibadah, kebiasaan ini juga terbukti memberi manfaat kesehatan.
Kurma mengandung gula alami seperti glukosa dan fruktosa yang cepat diserap tubuh, sehingga efektif mengembalikan energi setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Tak hanya itu, kandungan seratnya membantu sistem pencernaan kembali bekerja secara perlahan dan optimal, sehingga mengurangi risiko gangguan lambung akibat makan berlebihan saat berbuka.
Di sisi lain, kurma juga kaya akan kalium, magnesium, dan antioksidan yang berperan dalam menjaga kesehatan jantung serta meningkatkan daya tahan tubuh.
Dengan manfaat tersebut, kurma bukan sekadar simbol tradisi, tetapi juga pilihan cerdas untuk menjaga keseimbangan nutrisi selama Ramadan.
Fenomena ini juga berdampak pada peningkatan permintaan kurma di pasaran menjelang dan selama bulan suci.
Para pedagang mengaku penjualan meningkat signifikan, terutama untuk jenis kurma premium yang banyak diburu masyarakat untuk sajian buka bersama maupun sebagai hantaran.
Dengan nilai religius, manfaat kesehatan, serta makna kebersamaan yang melekat, kurma tetap menjadi primadona saat azan Magrib berkumandang.
Tradisi manis ini bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga mempererat silaturahmi dan memperkaya makna Ramadan.













